Rabu, 18 November 2009

Referensi Novel New Moon, Bella mencintai 2 Makhluk Mitos, Vampire dan Serigala Jadi-jadian



tags: Bella Swan, Edward cullen, New Moon, Quilette, Stephenie Meyer, Vampire, Volturi, Votrerra
by eviwidi

Masih ingat Novel Twilight? Yep, ini adalah sekuel kedua seri Romantisme kisah cinta antara Vampire dan Manusia, Bella Swan dan Edward Cullen.

Berhubung ini novel cinta-cintaan yang ‘dibungkus’ dengan kisah-kisah yang masih menjadi mitos dimasyarakat jadi tentu saja kisah romannya bertebaran di sana-sini disetiap sudut kisah.Dan tidak ketinggalan ketegangan ketegangan dengan mahluk-mahluk jadi-jadian..(gilee.pengulangan kata-katanya banyak banget ya..:p)

Kisah diawali dengan cerita Bella yang akan ulang tahun, Edward punya rencana untuk membuat perayaan ulang tahun Bella yang ke-18. Berbagai rencana disusun namun Bella menolak mentah-mentah semua rencana perayaan Ultah-nya dan tak mau menerima hadiah sekalipun. Karena dengan ulang tahun yang ke-18 ini menandakan dia berumur “lebih tua” setahun dari Edward yang berumur “17”.

Saat keluarga Cullen membuat rencana dirumahnya, Bella akhirnya tak kuasa menolak, berbagai hadiah di siapkan oleh seluruh “keluarga” Vampire saat berkumpul dirumah pinggir hutan tersebut. Pesta berjalan lancar hingga saat Bella membuka salah satu kado tipis, yang tak sengaja melukai tangannya…dimana semua Vampire saat itu merubungnya..

Hampir semua Vampire menahan napas, tak terkecuali Edward, namun rupanya Jasper yang bermasalah dengan “diet”-nya tak kuasa mencium darah Bella, melihat reaksi Jasper yang membabi buta hingga beberapa pecahan kaca hancur dan melukai tangan Bella, reflek Edward melindungi Bella dari serangan Jasper dan Vampire yang lain memegangi Jasper sekuat tenaga. Sambil menahan napas, Edward membantu Bella berdiri dan ditangai dr.Cullen. Esme yang keibuan dan lembutpun tak bisa menyembunyikan ke-vampirannya dengan menahan napas demi melihat darah segar yang mengucur dari lengan Bella. Hanya dr. Cullen yang sepertinya sudah kebal dengan bau darah.

Setelah insiden tersebut, Edward lebih banyak diam dan berpikir. Kedekatannya dengan Bella sepertinya menjerumuskan Bella kedalam jurang yang makin kelam dan itu sangat tidak baik bagi kelangsungan hidup Bella selanjutnya. Dengan alasan “demi keselamatan” Bella, Edward dan keluarga dr. Cullen akhirnya memutuskan untuk pindah ke LA. Edward meninggalkan Bella..dan dimulailah mimpi buruk Bella di setiap tidur malamnya.

Hingga berbulan-bulan…

Di bulan ke-5, Bella mulai bisa berpikir sedikit jernih, dia menemui sahabat kecilnya Jacob Black, untuk mengusir semua mimpi buruk dan membuka lembaran baru hidupnya yang kelam setelah kepergian Edward. Bella mulai bisa tersenyum lagi dan hari-harinya kembali sedikit bersemangat.

Saat hiking sendiri ke hutan mengunjungi telaga sabit tempat dulu sering bertemu Edward, Bella tak sengaja bertemu dengan Laurent, Vampire teman James yang dulu sempat membuatnya berdarah-darah karena “permainan”dengan keluarga dr.Cullen. Saat Laurent akan menghabisi Bella, serombongan Serigala raksasa datang menyelamatkan Bella, melihat lawan yang tak sebanding, Laurent akhirnya kabur. Bella masih syok dengan apa yang dialamainya. Aneh, serigala raksasa itu tidak tertarik dengannya!

Makin kalut pikiran Bella karena Jacob Black yang biasanya periang berubah menjadi bengis dan tidak bersahabat. Keadaan yang membuat-nya makin terpuruk, tak ada lagi teman..ada apa dengan Jacob?

Bella makin kalut karena omongan Laurent yang menyebut bahwa Victoria, vampire pasangan James masih memburunya…

Kisah kemudian menggelinding sampai akhirnya Bella bertemu lagi dengan Edward di sebuah kota di Italia, sebuah kota kecil, tua yang dikelilingi gedung-gedung tua bernama Volterra…yang dikuasai oleh “keluarga” vampire tertua bernama Volturi, yang berkuasa sejak zaman Etruria, lebih dari 3000 tahun yang lalu..

Apa sebenarnya yang menyebabkan Edward bisa berada di kota sarang Vampire tersebut? Dan kenapa Bella bisa sampai di Italia? Tentu saja di New Moon ini jawabanya.

Kelebihan Novel ini:

Kisah keteganganya mengena dan terjaga, meskipun kurang detil dan tidak ada klimaks dalam menggambarkan pertarungan antara Vampire dan Srigala raksasa-nya, juga saat Bella berada di sarang Vampire di Italia. Mungkin karena yang nulis perempuan yang dia berusaha tidak mengumbar kekerasan dan kengerian disana-sini, ingat ini novel roman, bukan murni Vampire seperti kisah Dracula Van Helsing-nya Bram Stoker.

Kekurangan Novel ini:

Ada sedikit kekonyolan, yaitu saat Bella dan Alice naik pesawat ke Italia.

“Alice sudah mengangkat telepon dari punggung kursi didepannya sebelum pesawat berhenti menanjak, sengaja memunggungi pramugari yang menatapnya tidak setuju. Namun sesuatu di ekspresiku membuat pramugari itu mengurungkan niatnya untuk menegur kami. Aku berusaha menulikan telinga dari bisik-bisik Alice dengan Jasper; aku tak ingin mendengar kata-katanya lagi…”(hal. 451)

Hah, didalam pesawat yang lagi take off, Alice bisa menelepon Jasper? Yang benar saja?!

Meskipun banyak kekonyolan disana-sini namun hal tersebut tidak mengurangi kenikmatan mengikuti kisah Vampire “vagetarian” ini. Dari situs resmi-nya Stephenie Meyer, kabarnya akan ada sekuel tambahan setelah Eclipse dan Breaking Dawn yang berjudul Midnight Sun.

Walah..apakah Tante Stepheni ini mau ngikutin jejak “spektakulernya” sinetron legendaris kita Tersanjung? Mudah-mudahan sih kisahnya tidak maksa. Karena biasanya sebuah sekuel yang dipanjangkan akan ada semacam sindrom memaksakan kisah yang seperti dibuat-buat hingga tidak bisa dinikmati lagi.

Kapolda Jateng: Heli SAR Jatuh Karena Terbang Terlalu Rendah



Semarang - Helikopter yang jatuh di Pantai Marina, Semarang, adalah milik Badan SAR Nasional (Basarnas) bukan milik Badan SAR Daerah Jawa Tengah (Jateng). Penyebab kejadian itu diduga kerena helikopter naas tersebut terbang terlalu rendah.

Hal tersebut diungkapkan Kapolda Jateng, Irjen Pol Alex Bambang Riatmodjo, saat meninjau lokasi kejadian, Rabu (18/11/2009).

"Informasi yang saya terima heli itu terbang terlalu rendah sehingga bagian bawahnya terkena air dan akhirnya jatuh," kata Alex.

Alex mengaku dirinya belum tahu pasti apakah pesawat tersebut mengalami kerusakan mesin atau tidak. Namun berdasarkan informasi dari Basarnas, kondisi helikopter tersebut laik terbang.

Masih menurut Alex, polisi akan membantu proses evakuasi bangkai heli naas tersebut. Namun untuk melakukan hal tersebut, polisi dan SAR masih menunggu peralatan dari Jakarta.

"Kita masih menunggu kedatangan alat dari Jakarta untuk mengangkut badan helikopter dari dalam laut," ungkap Alex.

Sekadar diketahui, helikopter milik Basarnas tersebut adalah jenis Bolco NBO 105. Pesawat ini sedang digunakan dalam latihan dasar gabungan SAR. Kegiatan itu diikuti 44 orang anggota SAR dari Semarang, Jakarta, Makassar dan Kendari.

Antisipasi Banjir DKI Meragukan


Rabu, 18 November 2009 | 08:18 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah anggota DPRD DKI Jakarta meragukan kemampuan Pemerintah Provinsi DKI dalam menanggulangi banjir. Soalnya, saat dilanda hujan sekitar tiga jam pada Jumat (13/11) lalu, sejumlah lokasi di Jakarta langsung tergenang.

Bahkan, Pemprov DKI dinilai tidak siap menanggulangi bencana banjir besar lima tahunan, yang terakhir terjadi pada 2007. "Kesiapannya seperti apa? Tampak sekali banjir demikian mudah terjadi di jantung kota meski hujannya sangat sedikit," kata anggota Komisi D DPRD DKI, Matnoor Tindoan, kemarin.

M Sanusi, juga anggota Komisi D, mengatakan bahwa banjir seharusnya bisa dicegah. "Setelah tiga tahun pemerintahan (Gubernur Fauzi Bowo) ini, kita belum melihat perubahan. Banjir tetap terjadi meski sudah ada proyek KBT (Kanal Banjir Timur) dan sejumlah normalisasi saluran air," katanya.

Berdasarkan penjelasan yang diterima Komisi D dari Pemprov DKI, menurut Ketua Komisi D Berlin Hutajulu, antisipasi banjir tidak optimal karena 40 persen wilayah Jakarta merupakan dataran rendah, bahkan di bawah ketinggian muka air laut. Selain itu, berkurangnya ruang terbuka hijau (RTH) di daerah hulu meningkatkan kecepatan run-off (aliran) air ke Jakarta.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta, Paimin Napitupulu, menegaskan bahwa pihaknya siap mengantisipasi banjir. "Di setiap titik potensi banjir telah dibangun pos pengendalian banjir, yang antara lain diisi oleh SDM (sumber daya manusia) dan peralatan untuk mengatasi banjir, termasuk mobil untuk mengevakuasi, perahu karet, dan ambulans," katanya.

Paimin menyatakan, siklus banjir besar lima tahunan adalah tahun 2002, 2007, 2012, dari seterusnya. Meski demikian, menurut dia, Pemprov DKI tidak akan berpatokan pada perhitungan tersebut.

108 Sekolah di Jakarta Rawan Banjir


Rabu, 18 November 2009 | 13:48 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Hujan deras yang terjadi di Jakarta belakangan ini tampaknya telah membuat was-was 108 sekolah yang berada di daerah rawan banjir. Mereka khawatir kegiatan belajar mengajar (KBM) akan terganggu jika ruang kelas mereka digenangi air, seperti terjadi pada tahun sebelumnya.

Seperti di SMPN 122 Jakarta Utara, setiap kali musim hujan, genangan air selalu terjadi di sana hingga masuk ke dalam ruang kelas. Praktis KBM pun sering terganggu.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan DKI, ke-108 sekolah rawan banjir itu masing-masing terdapat di Jakarta Timur (26 sekolah), Jakarta Pusat (12), Jakarta Utara (66), Jakarta Barat (2), dan Jakarta Selatan (2). Sekolah rawan banjir ini meliputi SD, SMP, dan SMA.

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto mengatakan, sejauh ini sudah dilakukan berbagai antisipasi terhadap sekolah rawan banjir. Memang, hingga kini masih terdapat bangunan sekolah yang berada di kawasan rawan banjir sehingga membuat akses menuju sekolah dan KBM menjadi terhambat.

"Tapi, pada umumnya semua itu sudah diantisipasi. Seperti di SMPN 122 di Jakarta Utara yang akses jalannya terkena banjir, sudah kami antisipasi," kata Taufik Yudi, Rabu (18/11).

Disdik DKI Jakarta juga mengimbau kepada seluruh penyelenggara sekolah untuk menyiapkan konsep pemberian tugas tambahan kepada siswa. Sebab, dalam kondisi hujan lokal, penyelenggara sekolah masih bisa melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

Namun, ketika terjadi banjir praktis KBM terganggu. Bahkan, terkadang beberapa bangunan sekolah juga berfungsi sebagai tempat pengungsian. Melihat kondisi ini, terpaksa sekolah harus diliburkan.

"Tentunya di saat seperti ini, sekolah memberlakukan pada siswanya untuk belajar di rumah dengan diberi berbagai tugas atau kegiatan," ujar Yudi.

Hal senada diungkapkan Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan DKI Jakarta Didi Sugandi. Menurutnya, pada tahun 2008, terdapat sejumlah sekolah yang dijadikan tempat pengungsian.

“Tahun ini belum tahu sekolah mana yang dijadikan pengungsian," katanya.

Namun, dikatakan, banjir yang menerjang sekolah di Jakarta bukan dikarenakan kondisi lokasi daratan yang rendah, melainkan disebabkan oleh lingkungan sekitarnya.

Jakarta Banjir, Mana Ahlinya?


Rabu, 18 November 2009 | 18:12 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo selama dua tahun kepemimpinannya dinilai tidak mempunyai komitmen kuat dalam penanganan masalah banjir di Jakarta yang terjadi setiap tahun. "Political will Gubernur tidak terlihat untuk penanganan banjir. Perlu dipertanyakan ahlinya," tegas Direktur Eksekutif Walhi Jakarta, Ubaidillah, saat jumpa pers di Kantor Walhi Jakarta, Rabu (18/11).

Ubaidillah menjelaskan, Fauzi Bowo atau akrab disapa Foke dengan gelar seorang ahli tata kota ditambah pengalamannya sekitar 30 tahun berada di Pemprov DKI Jakarta ternyata tidak dapat mengubah Ibu Kota menjadi lebih baik, terutama masalah banjir. "Seharusnya dengan pengalaman dia dan gelar sang ahli tata kota dapat mengelola dan menata pembangunan di Jakarta dengan mempertimbangkan keseimbangan ekosistem kota," tegas dia.

Untuk mencegah melebarnya wilayah yang terkena banjir di Jakarta, lanjut Ubaidillah, Walhi mendesak Gubernur untuk segera menghentikan peralihan lahan terbuka hijau milik negara untuk dijadikan bangunan. Selain itu, segera dilakukan audit lingkungan yang melibatkan pemberi izin mendirikan bangunan (IMB) yang terindikasi melanggar hukum.

Desakan lain membuat strategi penanggulangan banjir jangka pendek, menengah, dan panjang, dan menyosialisasikan sistem peringatan dini banjir. Selain itu, melakukan transparansi terkait dana penanggulangan banjir yang mencapai Rp 500 miliar.

"Lebih baik dana tersebut didistribusikan langsung ke masyarakat di tingkat RT dan RW untuk memperbaiki sistem saluran air di lingkungan sendiri. Dikhususkan daerah yang terkena banjir dan berpotensi banjir," katanya.

Awas.... Tahun 2030 Jakarta Bisa Tenggelam!

Rabu, 18 November 2009 | 19:10 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — DKI Jakarta diperkirakan akan terendam air permanen pada tahun 2030 akibat beberapa faktor. Banjir pasang air laut (rob) akibat penurunan permukaan tanah serta banjir akibat hujan yang terus meluas di seluruh wilayah Ibu Kota menjadi faktor DKI Jakarta akan tenggelam.

"Tahun 2030 Jakarta terancam tenggelam permanen. Perluasan genangan air dan banjir rob menjadi faktor," kata Direktur Eksekutif Walhi Jakarta, Ubaidillah, saat jumpa pers di Kantor Walhi Jakarta, Rabu (18/11).

Ubaidillah menjelaskan, banjir rob di Jakarta diperkirakan akan terus melebar. Saat ini wilayah Jakarta yang terkena banjir rob, yaitu Marunda, Cilincing, Ancol, Pademangan, Muara Baru, Muara Angke, dan wilayah lain.

Beberapa wilayah di Jakarta, ucap dia, telah melanggar tata ruang dengan mengalihkan fungsi lahan terbuka menjadi bangunan sehingga memperluas daerah banjir. Sebagai contoh, bangunan Mega Mall Pluit, Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, kawasan Pantai Indah Kapuk, kawasan Kemang, Kelapa Gading, Senayan, Hotel Mulia, Plaza Senayan, Sudirman Place, Mall Taman Anggrek, Podomoro City, dan wilayah lain.

"Bayangkan saja di Jakarta terdapat 364 pusat perbelanjaan dan 57 mal. Banyak pusat perbelanjaan dan mal yang melanggar tata ruang. Banjir juga akibat 80 persen dari 6.000 ton sampah per hari yang masuk ke saluran air dan mengakibatkan saluran tersumbat," tegas dia.

Pada tahun 2008, tambah Ubaidillah, sebanyak 514 RW di 151 kelurahan terendam banjir dengan korban yang dirawat sedikitnya 542 orang dan pengungsi 2.451 jiwa. Diperkirakan, pada awal tahun 2010 akan terjadi penambahan antara 5-10 persen wilayah yang terkena banjir.

"Masih ada waktu sekitar dua bulan untuk pemerintah membuat tanggap bencana. Pemerintah harus bergerak cepat mengatasi banjir," jelas dia.

Sejarah Singkat STMT TRISAKTI

STMT Trisakti adalah salah satu Perguruan Tinggi Swasta di bawah Yayasan Trisakti. STMT Trisakti berlokasi di Jalan IPN nomor 2, Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur, 13410. Telp. (021) 851 6050 (hunting), Fax. (021) 856 9340.

Tahun 1970 STMT Trisakti dikenal dengan nama Akademi Angkutan Udara Niaga (AAUN) Trisakti. Kemudian dengan Keputusan Mendikbud No.0332/O/1985 tanggal 27 Juli 1985 berubah menjadi Akademi Administrasi Udara Niaga Trisakti.

Selanjutnya berdasarkan Keputusan Mendikbud No.0860/O/1986 tanggal 6 Desember 1986, status dan nama lembaga ini ditingkatkan menjadi Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti disingkat STMT Trisakti.

Ketika itu STMT Trisakti mengelola 2 (dua) Jenjang Pendidikan, yaitu:
a. Jenjang Pendidikan D.III
b. Jenjang Pendidikan D.IV

Tahun 1986, STMT Trisakti memperoleh izin dari DIKTI untuk menyelenggarakan Jenjang Pendidikan Diploma IV untuk Program Studi Manajemen Transpor Darat (D.IV MTD), berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nomor : 0895 / O / 1986 tanggal 29 Desember 1986.

Gedung 1_0038
Kuliah
Wisuda
Gedung STMT Trisakti
Kegiatan Perkuliahan
Wisuda

Tahun 1993, STMT Trisakti memperoleh izin dari DIKTI untuk menyelenggarakan Jenjang Pendidikan Diploma III untuk Program Studi Manajemen Transpor Laut (D.III MTL), berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor : 481/DIKTI/Kep/1993 tanggal 13 Agustus 1993, dengan Status TERDAFTAR.

Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor: 18/DIKTI/Kep/ 1998 tanggal 26 Januari 1998, Program Studi Diploma IV (D.IV) berubah menjadi Program Studi Strata 1 (S.I) Manajemen, dengan konsentrasi :

  1. Manajemen Transpor Udara (MTU)
  2. Manajemen Transpor Darat (MTD)
  3. Manajemen Transpor Laut (MTL).

Pada tahun 1998, STMT Trisakti memperoleh izin menyelenggarakan Jenjang Pendidikan Diploma III Program Studi Manajemen Logistik dan Material (D.III MLM), berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor : 194/DIKTI/Kep/1998 tanggal 15 Juni 1998, dengan Status TERDAFTAR.

Pada tahun 2005, STMT Trisakti memperoleh izin operasional untuk penyelenggaraan Program Pasca Sarjana Magister Manajemen Transpor dan Logistik berdasarkan surat DIKTI No. 646/D/T/2005 tanggal 3 Maret 2005.

Saat ini STMT Trisakti menyelenggarakan :
  1. Jenjang Pendidikan Diploma Tiga (D.III)
    1. Program Studi Manajemen Transpor Udara ( MTU) dan Konsentrasi Manajemen Bandar Udara (MBU)
    2. Program Studi Manajemen Transpor Laut (MTL)
    3. Program Studi Manajemen Logistik dan Material (MLM)
  2. Jenjang Pendidikan Strata Satu (S.I), Program Studi Manajemen, dengan Konsentrasi
    1. Manajemen Transpor Udara (MTU)
    2. Manajemen Transpor Darat (MTD)
    3. Manajemen Transpor Laut (MTL)
    4. Manajemen Logistik (MLog)
  3. Jenjang Pendidikan Strata Dua (S.2), Program Pasca Sarjana Magister Manajemen
    1. Konsentrasi Magister Manajemen Transpor Udara
    2. Konsentrasi Magister Manajemen Transpor Darat
    3. Konsentrasi Magister Manajemen Transpor Laut
    4. Konsentrasi Magister Manajemen Logistik